Senin, 21 Oktober 2019

Published Oktober 21, 2019 by with 0 comment

Mengukur Luas dan volume

Mengukur Luas

Untuk mengukur luas suatu bidang, pertama-tama kita perlu mengetahui bentuk bidang tersebut. Misalnya luas persegi panjang dapat diketahui dari sisi-sisinya (panjang x lebar), luas ling karan dapat diketahui dari jari-jarinya (pi × kuadrat jari-jari). Berikut ini cara pengukuran luas beberapa bangun yang teratur bentuknya .

1. Mengukur luas persegi dan persegi panjang
Mengukur luas bentuk persegi dan persegi panjang tidak bisa dilakukan secara langsung, namun pertama-tama mengukur panjang dan lebar sisi-sisi persegi tersebut.

Contoh:
Suatu bentuk persegi panjang panjangnya p = 50 cm, dan lebarnya l = 20 cm, maka luas
bidang persegi panjang tersebut
Luas = p × l
         = 50 cm × 20 cm
         = 1.000 cm2

2. Mengukur lingkaran
Mengetahui luas bentuk lingkaran bisa dilakukan jika jari-jari atau diameter lingkaran tersebut sudah diketahui melalui pengukuran.

Contoh:
Suatu bentuk lingkaran diukur diameternya d = 20 cm atau jari-jari r = d/2 = 20/2 = 10 cm,
maka luas bidang lingkaran tersebut

Luas = π × r × r
         = 3,14 × 20 cm × 20 cm
         = 1.256 cm2

Mengukur Volume

Ada dua cara mengukur volume benda , yaitu :

1. Mengukur Langsung

a. Pengukuran volume zat cair
Pengukuran volume zat cair dapat dilakukan secara langsung, yaitu dengan memasukkan zat cair tersebut ke dalam gelas ukur (atau gelas pengukur volume yang biasa digunakan untuk menentukan jumlah bahan dalam memasak kue), kemudian baca skala pada gelas ukur tepat pada permukaan zat cair.

b. Pengukuran volume benda padat secara langsung berlaku pada benda-benda yang teratur bentuknya maupun yang tidak teratur, yaitu dengan menggunakan gelas ukur. Bendabenda yang teratur misalnya : benda berbentuk balok, kubus, silinder, bola, kerucut.

Mengukur Volume Benda Padat dengan Gelas ukur
Pengukuran volume benda-benda padat yang teratur maupun tidak teratur bentuknya dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan gelas ukur. Berikut ini cara yang perlu dilakukan dalam melakukan pengukuran dengan menggunakan gelas ukur:

a. Jika benda yang akan diukur berukuran kecil hingga bisa dimasukkan ke dalam gelas ukur, maka pengukuran bisa langsung dilakukan dengan mencelupkan benda tersebut ke dalam gelas ukur yang telah diisi air dalam jumlah atau volume tertentu, misalnya 100 mL. Selanjutnya catat perubahan volume yang terjadi pada skala ukuran, misalnya air naik hing ga pada ukuran 120 mL.

Volume benda yang akan diukur di dalam gelas ukur bisa diketahui dengan menghitung se lisih antara volume air V1 sebelum dicelupkan benda, dan V2 sesudah dicelupkan benda. Pada contoh ini volume benda diperoleh:

Volume benda = V2 – V1
                        = 120 mL – 100 mL
                        = 20 mL 

b. Jika benda yang hendak diukur berukuran besar hingga tidak bisa muat ke dalam gelas ukur, maka memerlukan suatu bejana yang lebih besar (atau gelas berpancur) untuk melakukan pengukuran. Se lan jutnya masukkan benda padat yang hendak diukur ke dalam bejana yang terisi air penuh. Luap an air dari bejana tersebut ditam pung di dalam bejana yang lebih be sar. Selanjutnya air luapan di dalam be jana yang lebih besar dimasukkan ke dalam gelas ukur. Dengan meng amati permukaan air di dalam ge las ukur tersebut yang berimpit dengan skala ukur pada gelas ukur tersebut bisa terbaca volume benda tersebut.

Catatan:
Beberapa benda begitu ringan hingga saat dicelupkan di air tidak tenggelam tapi mengambang/ mengapung. Hal ini menyebabkan tidak seluruh permukaan benda tertutup air hingga jumlah zat cair yang dipindahkan ke tempat lain juga berkurang. Untuk mengatasi hal ini benda yang mengapung tersebut perlu ditekan dengan menggunakan ujung jari atau lidi hingga seluruh permukaannya tertutup air. Lakukan secara hati-hati hingga ujung jari atau lidi tidak tercelup ke dalam air, karena bisa mempengaruhi jumlah zat cair yang dipindahkan.

2. Menghitung Hasil Pengukuran
Untuk mengukur volume benda padat yang berbentuk teratur, bisa dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan mengukur panjang, lebar, tinggi, dan/atau jari-jari (atau diameter), ke mudian menghitung volumenya sebagai berikut:

a. Balok,
Volume = panjang × lebar × tinggi

b. Kubus,
Volume = sisi × sisi × sisi

c. Silinder,
Volume = Luas alas × tinggi
= 3,14 × jari-jari2 × tinggi

d. Kerucut,
Volume = Luas alas × ⅓ tinggi
= 3,14 × jari-jari2 × ⅓ tinggi

e. Bola,
Volume = 4/3 x 3,14 x jari-jari2


APRESIASI 

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit
Published Oktober 21, 2019 by with 0 comment

Besaran Turunan


misalnya besaran luas, volume, dan kecepatan. Pada satuan luas dan volum menggunakan bilangan berpangkat. Sementara pada besaran kecepatan menggunakan bilangan berbagi.

Konversi Bilangan Berpangkat

a. Satuan Luas
Luas Persegi Panjang, → dilakukan pengukuran terhadap panjang dan lebar terlebih dahulu, diikuti dengan penghitungan luas:

Luas Persegi Panjang = panjang x lebar
                                   = (p) m × (l) m = (p × l) m2

Apabila satuan m2 akan dikonversikan ke dalam satuan cm2, cara mengubahnya sebagai berikut:
1 m2 = 1 m × 1 m
         = 100 cm × 100 cm
         = 10.000 cm2

Apabila satuan m2 akan dikonversikan ke dalam dm2, cara mengubahnya sebagai berikut :
1 m2 = 1 m × 1 m
         = 10 dm × 10 dm
         = 100 dm2

Apabila satuan m2 akan dikonversikan ke dalam satuan km2, cara mengubahnya sebagai berikut:
1 m2 = 1 m × 1 m
         = 0,001 km × 0,001 km
         = 0,000 001 km2

b. Satuan Volume
Volume balok, → dilakukan pengukuran terhadap panjang, lebar dan tinggi, diikuti dengan penghitungan volume:
Volume balok = panjang x lebar x tinggi
                       = (p) m × (l) m × (t) m = (p x l x t) m3

Apabila satuan km3 akan dikonversikan ke dalam satuan m3, cara mengubahnya sebagai berikut:
1 km3 = 1 km × 1 km × 1 km
           = 1.000 m × 1.000 m × 1.000 m
           = 1.000.000.000 m3

Apabila satuan m3 akan dikonversikan ke dalam satuan cm3, cara mengubahnya sebagai berikut:
1 m3 = 1 m × 1 m × 1 m
         = 100 cm × 100 cm × 100 cm
         = 1.000.000 cm3

Apabila satuan cm3 akan dikonversikan ke dalam satuan m3, cara mengubahnya sebagai berikut:
1 cm3 = 1 cm × 1 cm × 1 cm
           = 0,01 m × 0,01 m × 0,01 m
           = 0, 000,001 m3

Konversi Bilangan Berbagi

c. Satuan Kecepatan
Besaran kecepatan (atau kelajuan) dapat diukur melalui pengukuran secara langsung, yaitu dengan menggunakan speedometer yang terpasang di bagian dashboard mobil/motor. Biasanya satuan kecepatan yang digunakan pada speedometer di negara kita adalah kilometer per jam (km/jam). Beberapa negara di Eropa dan Amerika satuannya mil/jam (1 mil = 1,609 km)

Pengukuran kecepatan (atau kelajuan) bisa dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan cara mengukur jarak tempuh (besaran panjang) dibagi waktu yang diperlukan untuk m enempuh jarak tersebut, misalnya jarak tempuh dalam satuan km dan waktu dalam satuan jam, maka :

Kecepatan = jarak : waktu
                  = (s) km : (t) jam = (s/t) km/jam

Apabila satuan km/jam hendak dikonversikan ke dalam satuan m/det (meter/ detik), maka cara mengubahnya sebagai berikut :
1 km/jam = 1 km : 1 jam
                = 1.000 m : 3.600 det
                = 10/36 m/det
                = 0,278 m/det

Jadi 1 m/det = 1 km/jam : 0,278
                    = 1 km/jam : 10/36
                    = 36/10 km/jam
                     = 3,6 km/jam


APRESIASI 

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit
Published Oktober 21, 2019 by with 0 comment

Konversi Satuan


Konversi satuan merupakan pengubahan bentuk/jenis satuan yang satu ke satuan yang lain dalam besaran yang sama. Konversi satuan bertujuan agar:
  • Standar pengukuran tetap terjaga hingga tidak terjadi penyimpangan.
  • Mempermudah ukuran dari skala besar ke skala kecil, begitu juga sebaliknya.
  • Standar pengukuran dapat bersifat universal untuk semua daerah di dunia.
  • Mempermudah pengubahan dari satuan yang tidajk sejenis, seperti satuan baku ke satuan yang tidak baku, dan sebaliknya.

Mengkonversi satuan artinya mengubah satuan yang satu ke satuan yang lain sesuai aturan baku yang ditentukan. Misalnya 1 km jika dikonversikan ke satuan meter menjadi 1.000 m, 1 kg = 1.000 g, 1 cm = 0,01 m, dan contoh lainnya. Konversi satuan bisa dilakukan antara satuan yang sejenis namun berbeda skala ukuran, seperti dari meter ke centimeter, tapi bisa juga dari satuan yang tidak sejenis, seperti dari meter ke inci

Berikut ini beberapa tangga konversi dari satuan massa, panjang, luas, dan volume:
Beberapa satuan dari besaran volum yang lain, misalnya
1 liter (ditulis L) = 1 dm3
1 cc (centimeter cubic) = 1 cm3 = 1000 mm3 = 1 mL

Catatan:
Perhatikan bahwa jika susunan tangga konversi dibalik, maka angka nol berpindah ke kiri

APRESIASI

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit
Published Oktober 21, 2019 by with 0 comment

Satuan Internasional


Satuan Internasional merupakan satuan-satuan yang secara resmi digunakan secara universal di seluruh dunia. Satuan Internasional antara lain:

● Kilogram (ditulis kg) untuk besaran massa.
● Meter (ditulis m) untuk besaran panjang.
● Detik atau sekon (ditulis det atau s) untuk besaran waktu.

Sebelum menggunakan satuan sistem internasional, perlu mengubah satuan yang belum sesuai dengan SI (sistem internasional) menjadi satuan sistem internasional terlebih dahulu. Untuk itu perlu mengetahui tangga konversi satuan pengukuran berikut. Konversi satuan terbagi dua, yaitu konversi berdasarkan tingkatan atau tangga, dan konversi secara paralel.

  • Konversi tangga merupakan konversi dengan satuan yang sejenis, tapi berbeda dalam skala ukuran. Misalnya 1 kg = 1000 g, menggunakan satuan yang sejenis yaitu gram, namun ber beda dalam skala, karena yang satu menggunakan skala kilogram, sementara yang lain menggunakan skala gram.
  • Konversi paralel merupakan pengubahan satuan antara satuan yang tidak sejenis. Misalnya 1 inci = 2,54 cm, menggunakan satuan yang tidak sejenis, yaitu satuan inci yang biasa digunakan di Inggris dan Amerika, dan satuan cm merupakan satuan yang biasa digunakan secara universal di berbagai daerah.

Apabila ingin mengubah suatu satuan ke dalam satuan lain secara bertingkat (konversi tangga), maka kalikan 10 dan kelipatannya (atau sebaliknya, bagikan 10 dan kelipatannya untuk arah yang berlawanan) setiap melalui satu tangga. Konversi Satuan-satuan dalam SI melalui Tangga konversi :

1. Konversi bilangan dari skala yang lebih besar ke skala yang lebih kecil
a. Setiap turun satu langkah, maka bilangan tersebut harus dikalikan 10.
    Contoh:
    Satuan centimeter (cm) hendak diubah dengan diturunkan satu tingkat menjadi milimeter
    (mm), maka harus melalui 1 tangga konversi, sehingga harus dikalikan 10.
    → Jadi 1 cm = 1 x 10 mm = 10 mm
b. Setiap turun dua langkah, maka bilangan tersebut harus dikalikan 100
    Contoh:
    Satuan meter (m) hendak diubah dengan diturunkan dua tingkat menjadi centimeter (cm),
    maka harus melalui dua tangga konversi, sehingga harus dikalikan 100.
    → Jadi 1 m = 1 x 100 cm = 100 cm
c. Setiap turun tiga langkah, maka bilangan tersebut harus dikalikan 1.000.
    Contoh:
    Satuan kilometer (km) hendak diubah dengan diturunkan tiga tingkat menjadi meter (m),
    maka harus melalui tiga tangga konversi, sehingga harus dikalikan 1.000.
    → Jadi 1 km = 1 x 1.000 m = 1.000 m

2. Konversi bilangan dari skala yang lebih kecil ke skala yang lebih besar
a. Setiap turun satu tangga, maka bilangan tersebut harus dibagi 10
    Contoh:
    Satuan milimeter (mm) hendak diubah dengan diturunkan satu tingkat menjadi centimeter
    (cm), maka harus melalui satu tangga konversi, sehingga harus dibagi 10.
    → Jadi 1 mm = 1 cm : 10 = 0,1 cm
b. Setiap turun dua tangga, maka bilangan tersebut harus dibagi 100
    Contoh:
    Satuan centimeter (cm) hendak diubah dengan diturunkan dua tingkat menjadi meter (m),
    maka harus melalui dua tangga konversi, sehingga harus dibagi 100.
    → Jadi 1 cm = 1 m : 100 = 0,01 m
c. Setiap turun tiga tangga, maka bilangan tersebut harus dibagi 1.000
    Contoh:
    Satuan gram (g) hendak diubah dengan diturunkan tiga tingkat menjadi kilogram (kg), maka harus melalui tiga tangga konversi, sehingga harus dibagi 1.000.
    → Jadi 1 g = 1 kg : 1.000 = 0,001 kg

Satuan SI diperlukan karena pada zaman dulu, saat belum ada satuan yang baku secara internasional, terdapat begitu banyak satuan dari berbagai daerah, hingga sulit dilakukan pengukuran yang benar, karena setiap satuan harus dikonversikan ke satuan lainnya. Hingga pada sekitar tahun 1866 di Perancis diresmikan sistem satuan yang diharapkan bisa bersifat universal dan diterima secara internasional. Satuan tersebut disebut sistem internasional disingkat SI.
Tabel Besaran Pokok dan Satuan dalam SI Beserta Lambang Satuannya
Apa saja keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan satuan SI tersebut? Berikut ini beberapa keuntungan tersebut.
a. Mudah menggunakannya, karena tidak perlu melakukan konversi satuan lagi.
b. Mudah memperoleh alat ukur di berbagai daerah, karena sudah diakui secara internasional.
c. Satuan SI memiliki skala ukuran dari yang paling rendah hingga paling tinggi. 

Misalnya satuan panjang memilki satuan SI, yaitu meter. Untuk skala ukuran tinggi, meter bisa dikonversikan menjadi dekameter, hektometer atau kilometer dengan mudah, yaitu dengan membagi 10 untuk setiap tingkat kenaikan tingkat. Begitu juga untuk skala ukuran rendah meter bisa dikonversikan menjadi desimeter, centimeter hingga milimeter dengan cara mengalikan 10 untuk setiap penurunan tingkat

APRESIASI 

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit

Jumat, 20 September 2019

Published September 20, 2019 by with 0 comment

Alat Ukur



Alat ukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian, Beberapa persyaratan yang harus dimiliki sebuah alat ukur, yaitu:

a. Konsisten (tidak berubah dan selalu tetap) terhadap pengaruh lingkungan, seperti suhu, kelem
    baban, tekanan dan lainnya.
b. Universal atau dapat diterima dan digunakan di berbagai daerah.
c. Mudah dibuat dari bahan yang ada di lingkungan sekitar.
d. Beberapa Alat Ukur yang digunakan sebagai satuan standar antara lain :

1. Alat Ukur Besaran Panjang

Acuan atau standar yang digunakan sebagai satuan besaran panjang adalah meter. Satu meter standar internasional setara dengan seper 10 juta jarak dari kutub hingga garis khatulistiwa. Meter standar disimpan di Sevres, dekat Paris, terbuat dari bahan campuran pla tina yang tidak mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan, seperti suhu yang bisa menyebabkan memuai, kelembaban yang menyebabkan berkarat, dan pengaruh lainnya.

Mengikuti perkembangan zaman, meter standar diper ba harui berdasarkan sesuatu yang tidak akan berubah dalam berbagai kondisi, yaitu gelombang elektromagnet dimana 1 meter standar setara dengan panjang gelombang cahaya jingga yang dipancarkan oleh atom kripton-86 dalam ruang hampa.

Kelihatannya acuan meter standar di atas masih sulit digunakan karena gas kripton-86 tidak mudah diperoleh. Saat ini satu meter standar diperbaharui lagi, yaitu berdasarkan jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama seper 299 794 458 detik. 

Alat Ukur Panjang ada tiga macam, yaitu :

a. Mistar
Mistar yang biasa kita gunakan adalah mistar yang panjangnya antara 20 cm hingga 30 cm. Mistar ini biasanya menggunakan dua skala yaitu : cm dan mm. Skala terkecil atau ketelitian mistar adalah 1 mm.
Angka-angka yang tertera pada mistar menunjukkan skala satuan centimeter menurut ja rak yang bersesuaian. Diantara setiap angka-angka tersebut terdapat 10 garis pendek- pendek menunjukkan skala satuan milimeter. Skala satuan terkecil ini yang menun jukkan ketelitian suatu alat ukur. Dalam hal ini, mistar tersebut memiliki ketelitian 1 mm.

b. Jangka Sorong
Jangka sorong memiliki ketelitian melebihi mistar, yaitu sebesar 0,1 mm. Beberapa bahkan memiliki ketelitian hingga 0,05 mm. Jangka sorong memiliki dua skala, yaitu skala uta ma dan skala nonius atau vernier. Skala uta ma bersifat tetap atau tidak bergerak, se mentara skala nonius berada pada posisi digeserkan atau disorong.

Skala nonius mempunyai panjang 0,9 cm = 9 mm, atau setiap garis skala bernilai 9
mm : 10 = 0,9 mm (ketelitian 0,1 mm).

Cara Penggunaan Jangka Sorong:
  • Pengukuran terhadap suatu benda dilakukan dengan menggeser-geser rahang hingga posisi kedua rahang berhimpit dengan benda yang akan diukur (hati-hati agar tidak menekan terlalu keras pada kedua rahang jangka sorong tersebut, karena bisa merusak ujung rahang dan data hasil pengukuran akan menyimpang),
  • Kemudian mengamati letak angka nol dari skala nonius, di garis yang berimpit dengan salah satu garis pada skala utama satuan mm. Pada garis yang kurang lebih berimpit tersebut menunjukkan nilai hingga satuan terkecil 1 mm. Misalnya nilai 0 pada skala nonius berimpit paling dekat dengan garis pada skala utama bernilai 1,2 cm = 12 mm.
  • Pada skala nonius bisa ditentukan hingga ketelitian 0,1 mm dengan menentukan garis pada skala nonius yang berimpitan dengan garis pada skala utama. Misalnya garis pada skala nonius yang berimpit dengan skala utama bernilai 0,6 maka nilai terkecil hasil pengukuran 0,6 mm.
  • Nilai total hasil pengukuran adalah 12 mm + 0,6 mm = 12,6 mm.

c. Mikrometer Sekrup
Mikrometer sekrup merupakan alat ukur besaran panjang yang paling teliti dibandingkan alat ukur yang telah dibahas sebelumnya. Ketelitiannya mencapai 0,01 mm. Biasanya digunakan mengukur ketebalan suatu benda yang sangat tipis atau kecil. Seperti juga jangka sorong, mikrometer sekrup terdiri dari bagian yang tetap berfungsi sebagai skala utama dalam satuan 0,5 mm untuk setiap celah garis, dan bagian yang bisa digeserkan berupa selubung luar yang diputar seperti sekrup
Cara Penggunaan Mikrometer Sekrup:
  • Pengukuran dilakukan dengan cara menggeserkan bagian yang bisa digeserkan dengan cara memutarkannya seperti sekrup hingga ujung rahang menyentuh dan berhimpit dengan benda yang akan diukur. Ujung rahang agar jangan ditekan terlalu keras karena akan merusak ketepatan pengukuran.
  • Kemudian mengamati posisi ujung selubung yang berimpit dengan skala utama hingga kita memperoleh nilai mencapai ketelitian 0,5 mm. Misalnya posisi ujung selubung menunjukkan angka sekitar 3,5 mm.
  • Selanjutnya mengamati skala satuan yang terdapat pada selubung. Skala satuan tersebut melingkari selubung terdiri dari 50 bagian (atau garis) dimana setiap garis menunjukkan ketelitian pengukuran hingga 0,01 mm. Misalnya garis pada skala selubung yang berimpit pada garis melintang pada skala utama menunjukkan nilai 32, maka dinyatakan sebagai 0,32 mm.
  • Nilai total hasil pengukuran adalah 3,5 mm + 0,32 mm = 3,82 mm.

2. Alat Ukur Massa
Satuan standar internasional untuk massa adalah kilogram. Kilogram yang digunakan sebagai standar internasional adalah suatu si linder yang dibuat dari campuran platina dan disebut kilogram standar. Silinder ini disimpan di Sevres, dekat Paris. Semua alat ukur mas sa (atau istilahnya 'berat' dalam konteks ke hidupan sehari-hari), seperti tim bangan, neraca, dan lainnya, dibuat dengan mengacu pada kilogram standar tersebut. 

Beberapa satuan massa dan konversi terhadap satuan internasional (kg):
1 ton = 1 000 kg
1 kwintal = 100 kg
1 ons = 0,1 kg *)
 

Keterangan:
*) 1 ons = 0,1 kg = 100 g hanya berlaku di Indonesia.
Di luar negeri 1 ons (ounce/oz) = 28,35 g.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur besaran massa antara lain :

a. Timbangan
Alat ukur massa ini biasanya terdapat di dapur sebagai bagian dari alat rumah tangga atau sebagai timbangan badan. Timbangan ini biasanya digunakan dalam membuat masakan atau kue berdasarkan resep tertentu, atau sebagai alat untuk menimbang badan dalam skala ukuran yang lebih besar. Biasanya menggunakan pegas atau per agar timbangan dapat berfungsi
b. Neraca
Neraca biasanya menggunakan prinsip kesetimbangan antara sisi yang satu sebagai beban dan sisi yang lain sebagai pengukur beban. Sering dijumpai di pasar atau tokotoko yang biasa menjual barang secara kiloan (menjual barang berdasarkan massa benda tersebut). Benda atau beban yang akan diukur diletakkan di salah satu sisi timbangan, sedangkan pada sisi lainnya diletakkan anak timbangan sebagai pengukur, sehingga antara sisi yang satu dengan sisi yang lain terjadi keseimbangan

Neraca biasanya menggunakan prinsip kesetimbangan antara sisi yang satu sebagai beban dan sisi yang lain sebagai pengukur beban. Sering dijumpai di pasar atau tokotoko yang biasa menjual barang secara kiloan (menjual barang berdasarkan massa benda tersebut). Benda atau beban yang akan diukur diletakkan di salah satu sisi timbangan, sedangkan pada sisi lainnya diletakkan anak timbangan sebagai pengukur, sehingga antara sisi yang satu dengan sisi yang lain terjadi keseimbangan

Neraca yang lain, seperti neraca dua le ngan, mampu mengukur massa secara lebih teliti, misalnya mengukur massa emas, perak dan lainnya dalam satuan gram. Biasanya neraca ini digunakan dalam jual beli barang berharga seperti emas dan perak. 

Di dalam laboratorium, tersedia juga neraca dengan ketelitian mencapai 1 gram, biasanya disebut sebagai ne raca O'hause, biasa juga disebut sebagai neraca tiga lengan. Cara meng gunakan neraca ini dengan cara menggeser-geserkan beban pada tiga lengan neraca hingga di peroleh suatu kesetimbangan.

Pada masa kini sudah terdapat timbangan dengan menggunakan prinsip kerja elektronika, biasa disebut sebagai timbangan elektronik. Timbangan jenis ini biasanya terdapat di pasar modern, seperti supermarket atau supermal. Kita tinggal menaruh ben da yang akan diukur massanya di atas bidang beban pada alat elektronik tersebut. Selanjutnya pada tam pilan akan muncul angka yang menunjukkan massa (atau istilahnya 'be rat' dalam konteks sehari-hari) benda tersebut.
3. Alat Ukur Waktu
Standar satuan internasional waktu adalah sekon atau detik. Satu detik pada awalnya disamakan dengan seper 86400 selang waktu yang diperlukan oleh matahari dalam melakukan gerak semu mengelilingi bumi selama 1 hari. Namun diketahui kemudian bahwa 1 hari matahari mengelilingi bumi tidak tepat 24 jam atau 86 400 detik. Oleh karenaitu standar 1 detik diubah menjadi setara dengan atom cesium 133 untuk melakukan getaran sebanyak 9.192.631.770 kali.

Ukuran Waktu :
1 jam    = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 jam    = 3.600 detik
1 hari    = 24 jam
1 hari    = 1.440 menit
1 hari    = 86.400 detik

Alat ukur waktu antara lain :
a. Arloji atau jam
Arloji atau jam tangan merupakan alat ukur waktu yang sering dipasang di tangan. Bisa juga dipasang di dinding sebagai jam dinding, atau dipasang di atas meja/bufet sebagai jam meja atau jam weker. Jam weker bisa memberikan tanda berupa alarm pada suatu waktu yang telah ditentukan. Jam/arloji ini terbagi dua, yaitu yang menggunakan jarum penunjuk, dan ada yang menggunakan sistem digital.
b. Stopwatch
Alat ukur waktu yang digunakan untuk ketelitian yang lebih tinggi disebut stopwatch. Biasanya alat ini digunakan untuk olahraga yang membutuhkan kecepatan setinggi mungkin dimana membutuhkan waktu yang sesingkat mungkin dengan ketelitian yang tinggi, seperti lari dan berenang. Ketelitian stopwatch dengan jarum penunjuk bisa mencapai 0,1 detik. Sekarang ini sudah ada stopwatch sistem digital yang bisa mencapai ketelitian 0,01 detik.

Keterangan: Mengenai Kalibrasi

Beberapa alat ukur seperti timbangan/neraca yang berfungsi mengukur massa (berat dalam konteks sehari-hari), ternyata tidak selalu konsisten dan bisa berubah nilai hasil pengukurannya setelah jangka waktu tertentu. Ini mengakibatkan hasil pengukuran menjadi tidak benar dan menyimpang dari yang seharusnya. Penyimpangan nilai bisa terjadi karena adanya karat atau korosi pada alat timbangan, batere yang sudah lemah pada arloji yang kita gunakan, atau tumbukan/benturan pada alat ukur tersebut.

Untuk mengatasi penyimpangan ini, perlu dilakukan kalibrasi ulang terhadap alat ukur tersebut. Kalibrasi merupakan suatu kegiatan yang diperlukan agar alat ukur tersebut sesuai dengan standar acuan nasional maupun internasional yang telah ditentukan.  

Di Indonesia ada Lembaga yang khusus menangani masalah kalibrasi, yaitu Lembaga Metrologi Nasional yang terdapat di Pusat Penelitian Kalibrasi Instrumen dan Metrologi LIPI (Puslit KIM LIPI) di Kompleks Puspiptek Gedung 420, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia.

APRESIASI 

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit

Selasa, 13 Agustus 2019

Published Agustus 13, 2019 by with 0 comment

KITA DAN EKOSISTEM




Pengertian Ekosistem


Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fi sik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme.

Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada. Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fi sik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fi sik, sebaliknya organisme juga mempengaruhi lingkungan fi sik untuk keperluan hidup.

Komponen pembentuk ekosistem dibagi dua, yaitu biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah berupa berbagai makhluk hidup yang ada di dalam suatu ekosistem. Berdasarkan peranannya didalam ekosistem, komponen biotik dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu: produsen (tumbuhan), konsumen (pemangsa) dan pengurai (detritus). Sedangkan komponen abiotik adalah merupakan komponen ekosistem berupa benda tak hidup yang terdapat disekitar makhluk hidup. Komponen abiotik yang berpengaruh pada ekosistem yaitu: air, suhu, iklim, cahaya matahari, kandungan garam, tanah dan batuan.

Saling Ketergantungan Makhluk Hidup dalam Sebuah Ekosistem

Tuhan menciptakan makhluk hidup yang ada di permukaan bumi, adalah untuk saling memberi manfaat. Tidak ada hewan dan tumbuhan yang diciptakanNya sekecil apapun bentuknya yang tidak ada nilai manfaatnya. Bahkan kalau kita belum mampu melihat nilai manfaatnya, hal itu menjadi penanda begitu terbatasnya pengetahuan kita, sehingga belum mampu memecahkan misteri dari Sang Pencipta. Tentu saja ada hubungan saling ketergantungan antara makhluk hidup satu dengan yang lainnya. Makhluk hidup juga mempunyai hubungan ketergantungan dengan lingkungannya..

Hubungan Antar Makhluk Hidup, dapat digambarkan dalam beberapa defi nisi berikut ini:

1. Simbiosis
Simbiosis yaitu hubungan ketergantungan antara dua makhluk hidup atau lebih yang hidup ber sama yang membentuk hubungan yang khas. Yang dibedakan menjadi tiga bentuk hubung an, yaitu:

a. Simbiosis Mutualisme
Simbiosis mutualisme adalah hubungan khas antara dua makhluk hidup atau lebih yang saling menguntungkan. Contoh simbiosis mutualisme adalah antara lebah de ngan bunga, kupu-kupu dengan bunga dan kerbau dengan burung jalak pemakan kutu.

b. Simbiosis Parasitisme
Simbiosis parasitisme adalah hubungan khas antar makhluk hidup yang merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lainnya. Contoh simbiosis parasitisme yaitu tum buhan tali putri dengan tumbuhan inang yang di tumpanginya, pohon benalu dan tumbuhan inang yang ditumpanginya.

c. Simbiosis Komensalisme
Simbiosis komensalisme adalah hubungan yang khas antar makhluk hidup yang meng un tungkan satu pihak tetapi tidak merugikan pihak lainnya dan tidak memperoleh keuntungan apapun dari hubungan tersebut. Contoh simbiosis komen salisme adalah hu bungan antara tanaman hias tanduk rusa dengan pohon inangnya begitu juga dengan hu bungan antara bunga anggrek dengan pohon inangnya. Tumbuhan tanduk rusa tidak mengambil makanan dari pohon inang, begitu juga dengan pohan inang tidak dirugikan dan tidak diuntungkan.


2. Rantai Makanan
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antar makhluk hidup dengan urutan tertentu. Contoh rantai makanan yaitu rumput dimakan kambing dan kambing dimakan singa. Di dalam rantai makanan ada tingkatan yang disebut produsen, konsumen dan pengurai. Tumbuhan disebut sebagai produsen karena hanya tumbuhan yang dapat membuat atau pemproduksi makanan sendiri. Hewan herbivora atau pemakan tumbuhan disebut konsumen tingkat I, sedangkan hewan yang memakan konsumen tingkat I disebut konsumen tingkat II begitu seterusnya.

Di dalam rantai makanan makhluk hidup yang mati diuraikan atau di busukan oleh pengurai (seperti jamur, bakteri dan cacing). Proses pembusukan atau penguraian ini menghasilkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Beberapa rantai makanan dapat saling berhubungan membentuk jaring-jaring makanan.

Contoh rantai makanan perumput :


Contoh rantai makanan detritus/decomposer/pengurai
Rantai makanan yang tidak dimulai dari tumbuhan, tetapi dimulai dari detritus sebagai trofi k
awalnya.
Detritus → Detritivora → Karnivora

Contoh rantai makanan detritus adalah seresah atau dedaunan dimakan cacing tanah, cacing
tanah dimakan bebek, dan bebek dimakan manusia.

3. Jaring-jaring Makanan

Di alam semesta yang sangat beragam ini, satu produsen tidak hanya dimakan oleh hanya satu organisme/konsumen pertama. Tetapi bisa dimakan oleh lebih dari satu jenis konsumen pertama. Satu jenis konsumen pertama dapat dimakan lebih dari satu jenis konsumen kedua dan seterusnya. Jadi rangkaian makan dan dimakan/rantai makanan yang saling berkaitan lebih dari satu rangkaian itulah yang disebut dengan jaring-jaring makanan, lebih jelasnya peristiwa tersebut diilustrasikan pada bagan dibawah ini:

Contoh: Jaring-jaring makanan pada ekosistem sawah



SILAHKAN KERJAKAN TUGAS





Lanjut Baca
      edit
Published Agustus 13, 2019 by with 0 comment

besaran dalam kehidupan sehari-hari


Perhatikan di sekitar kita! Apa yang hendak kita lakukan jika kita hendak mengukur panjang, massa (yang dimaksud adalah ‘berat’ dalam istilah sehari-hari), atau waktu? Barangkali kita sudah mengenal beberapa alat ukur yang ada di sekitar, seperti mistar (pengukur panjang), timbangan (pengukur massa), jam/ arloji/ stopwatch (pengukur waktu), thermometer (pengukur suhu), dan lain sebagainya. 

Amati bahwa setiap alat pengukuran tersebut ternyata mempunyai skala yang digambarkan sebagai susunan garis-garis yang teratur. Selanjutnya amati skala pada masing-masing alat ukur tersebut.

Perhatikan gambar di atas. Tampak mistar dengan satuan cm tertulis. Skala pada alat ukur mistar tersebut adalah 1 cm ditunjukkan pada garis-garis dengan bilangan berurutan 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya. Perhatikan bahwa jarak pada 0 ke 1 adalah 1 cm, begitu juga jarak dari 1 ke 2, 2 ke 3, 3 ke 4, 4 ke 5, dan seterusnya…. adalah 1 cm. 
Maka dikatakan skala alat ukur tersebut adalah 1 cm.

Untuk mengubah satuan pengukuran ke satuan internasional, pertama-tama kita perlu mengetahui beberapa satuan internasional, yaitu:

1. Besaran Pokok

Besaran panjang : Satuannya meter (disingkat m)
Besaran waktu : Satuannya detik (disingkat det atau ‘s’ singkatan dari second dalam bahasa Inggris)
Besaran massa : Satuannya kilogram (disingkat kg sama dengan satuan berat dalam kehidupan sehari-hari)
Besaran suhu : Satuannya celcius (disingkat °C)

2. Besaran Turunan

Besaran luas : Satuannya meter persegi (disingkat m2 )
Besaran volum : Satuannya meter kubik (disingkat m3 )
Besaran kecepatan : Satuannya meter per detik (ditulis m/ det )
Massa jenis atau berat jenis : Satuannya kilogram per meter kubik (ditulis kg/m3)
Besaran pokok ada tujuh, antara lain :
1. Panjang,
2. Massa,
3. Waktu,
4. Suhu,
5. Kuat arus,
6. Intensitas cahaya, dan
7. Jumlah zat.
Pada pembahasan saat ini hanya dibahas tiga besaran pokok yang paling berpengaruh dan berperan dalam pengukuran sehari-hari, yaitu:
1. Besaran panjang, juga meliputi lebar, tebal, tinggi, jarak, jari-jari, diameter, keliling.
2. Besaran massa, atau biasa dikenal sebagai ‘berat’ dalam konteks kehidupan sehari-hari

3. Besaran waktu

Besaran pokok yang lainnya akan dibahas pada saat yang bersesuaian dengan pokok bahasan, misalnya mengenai besaran kuat arus listrik akan dibahas pada pokok bahasan mengenai listrik. Selain besaran pokok terdapat besaran turunan. Besaran turunan merupakan hasil kombinasi dari beberapa besaran pokok, misalnya luas, volum, dan kecepatan.

Contoh :
1. Luas merupakan hasil kombinasi dari dua besaran panjang, yaitu panjang dan lebar.
Luas = panjang x lebar
(satuannya m x m = m2)

2. Volume merupakan hasil kombinasi dari tiga besaran panjang, yaitu panjang, lebar, dan tinggi.
Volume = panjang x lebar x tinggi ( untuk balok )
(satuannya m x m x m = m3)

3. Kecepatan merupakan kombinasi dari besaran panjang dan besaran waktu.
Kecepatan = jarak/waktu
(satuannya m/s)

Keterangan:
‘Massa’ dan ‘berat’ merupakan istilah yang sama dalam kehidupan sehari-hari, namun dibedakan dalam konteks fi sika. Massa suatu benda selalu tetap dimanapun berada, sementara berat benda dipengaruhi oleh gravitasi. Oleh karena itu benda bermassa 1 kg, beratnya di bumi 1 kg. Namun di bulan yang pengaruh gravitasinya sangat rendah, berat benda itu hanya sekitar 0,17 kg, tapi massanya dianggap tetap 1kg.

Contoh:
Suatu alat ukur timbangan dengan penunjuk satuan skala seperti berikut

Berapa satuan skala pada alat ukur tersebut?
Jawab:
Untuk setiap skala 100 terdapat 2 garis penunjuk. Artinya untuk setiap satu skala:


jadi satuan skala alat ukur tersebut adalah 50 gram

APRESIASI 

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit